
"Te nu ngora....., teu nu Kolot...., aki2, nini....! parawan atawa nu geus jebol....! arindit ka Alun2 Ciamis.....!". ceuk Sie Pena.


Namun, kekayaan tersebut merupakan buah dari apa yang sudah mereka perjuangkan selama ini. Mereka bisa menjadi kayak arena memiliki pikiran, kebiasaan, sikap dan perilaku yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang tidak sukses secara financial.
Berikut ini tips melakukan 10 kebiasaan yang bisa membuat Anda sukses secara financial (kaya):
Golongan manusia berdasar kepintarannya di golongkan menjadi 4 tipe, yaitu :
1. Rojulun yadri wa yadri anahu yadri fahuwa alimun. fa tabi’uhu. Manusia itu pintar dan dia menyadari kepintarannya, maka orang ini orang pintar. Maka ikutilah dia.
2. Rojulun yadri wa layadri anahu yadri fa huwa ghofilun. Fannabi’uhu. Orang ini pintar tapi dia tidak menyadari dan tidak mengamalkan ilumunya, orang ini seperti orang sedang tidur, maka bangunkanlah.
3. Rojulun layadri wa yadri anahu layadri fahuwa mustaghshikin. Orang ini bodoh, dan dia menyadari bahwa dirinya adalah bodoh, maka orang ini berilah petunjuk.
4. Rojulun layadri wa layadri anahu layadri fahuwa dholimun. Jahilun murokabun. Orang ini bodoh, tapi tidak tahu kebodohonnya bahwa dirinya adalah bodoh. Orang ini adalah orang jahil. Bodoh atau dholim atau jahilun murokabun. Tinggalkan dia.
Kita termasuk golongan yang mana ?
Ayo kita selalu mencari ilmu, mentransfer ilmu, mengajarkan jalisan, dengan anak-anak kita seperti yang dilakukan orang tua kita, kakek-nenek kita dahulu.
Ayo kita semua baik yang pintar-pintar maupun yang bodoh-bodoh, ayo selalu gunakan akal, agar selamat dunia dan akherat.
Sebab tentang Akal, Al Aql ini Sahabat Ka’ab dan Abu Hurairah pernah bertanya kepada Rasulullah SAW.
Yaa.. Rasulullah, Man a’lamunnas ? Siapa orang yang paling pandai ? dijawab oleh Rasulullah Al aql, orang yang menggunakan akalnya.
Man a’budunnas ? Siapa orang yang paling hebat ibadahnya ? dijawab …. Al aql
Man afdholunnas ? Siapa yang paling utama-utamanya manusia ? dijawab …. Al aql
A’latul mu’min, al ’aql . Alat seorang mukmin adalah Al aqil.
Kita sudah diperintah oleh Allah Ta’ala untuk senantiasa Iqro’…iqro’…iqro’ . tapi kenyataannya kita masih saja jumud.
Oleh karena itu menghadapi persoalan hidup ini, ayo bangkit jangan menangis dengan kekalahan, jangan bersedih dengan kehilangan, senyumlah dengan pengalaman-pengalaman kenapa kita kalah, kenapa kita bersedih, maka kau akan menang, ketenangan kebahagiaan akan kau peroleh. Insyaallah.

Ada sebuah simulasi, 3 panci diatas kompor, panci pertama diisi wortel, panci kedua diisi telur dan panci ketiga diisi kopi. Ketiga-tiganya sama-sama direbuh selama 15 menit,dan lihatlah yang terjadi, wortel sebelum masuk panci keadaannya agak keras,setelah 15 menit direbus,wortel tersebut menjadi lembek. Beda lagi dengan keadaan telur, awalnya dia cair didalamnya, namun setelah 15 menit didalam panci, dia berubah menjadi keras. Dan bagaimana dengan nasib kopi? Berbeda dengan kedua kawannya, wujud kopi hilang, dia menyatu dengan air dan jadilah wedang kopi yang harum dan menggugah selera.
Coba kita hubungkan dengan keadaan kita, anggaplah air yang mendidih itu adalah ujian atau cobaan hidup kita didunia. Kita sebagai manusia ada yang memiliki sifat tegar, optimistis, namun kala ujian menerpa jiwa kita luruh, hanyut, mental kita menjadi loyo, lembek, tak berdaya, kita menyerah kalah tanpa perlawanan oleh keadaan. Tiba-tiba kita menjadi pendiam, menutup diri.
Ada lagi manusia yang tadinya berjiwa lembut, penuh cinta kasih, tapi tak jauh beda dengan jiwa yang pertama, manakala ia dihadapkan pada ujian Alloh, jiwanya tak mampu meski hanya sekedar bertahan, ini diwakili oleh telur, yang tadinya berupa wujud cair,setelah 15 menit direbus,ia menjadi keras, begitulah….. ketika hidup kita mapan, anak-istri hidup rukun tak kurang suatu apa, bisnis lancer bahkan berkembang pesat, kita benar-benar menjadi “manusia” yang di “manusiakan”,namun saat giliran ujian kehilangan dan kekurangan menyambangi, kita menjadi angkuh, sombong, tidak lagi percaya dengan keadilan Alloh.
Yang ketiga adalah jiwa seperti kopi, dia tidak terlalu terpengaruh dengan keadaan, tapi sebaliknya, dialah yang mempengaruhi keadaan, keadaan yang kurang mengenakkan, diterimanya sebagai suatu kewajaran, semua taqdir-Nya baik yang baik atau pun buruk diterimanya dnegan lapang dada, akhirnya ia bisa mengubah keadaan.
Kadang kehidupan tidak banyak memberikan banyak pilihan kepada kita, kadang keadaan tidak seperti yang kita harapkan. Menerima keadaan secara wajar, lalu berusaha dan berdo’a untuk perbaikan adalah langkah yang baik untuk kita tunaikan sebagai hamba Alloh